Ini adalah sebuah tulisan saya pertama tentang budaya khususnya di Bali. Perjalanan ini kali adalah di sebuah Desa Tua di Bali. Kegiatan upacara ini dikenal dengan Ngusaba Dalem. Sebagaimana namanya upacara dilaksanakan di areal pura dalem yang sangat tua dan dikenal sebagai Pura Dalem Pingit. Upacara diawali dengan pembersihan areal tempat upacara kemudian dilanjutkan dengan menyembelih 2 ekor sapi sebagai “olahan” yang digunakan dalam upacara.
Sebagai catatan pengolahan daging sapi ini semua direbus atau dipanggang tidak ada pengolahan dengan menggoreng. Termasuk semua isi banten yang nantinya digunakan dalam upacara inipun tidak ada yang digoreng jadi disajikan dalam bentuk segar, diolah dengan direbus atau dipanggang.
Setelah beberapa olahan upakara jadi dan matang maka Pemimpin adat di Desa ini (Jero Bayan) menghaturkan ulam olahan dan juga disertai dengan metabuh sedangkan anggota masyarakat masih tetap melanjutkan kegiatan metanding upakara dan juga tandingan kawas.
Setelah semuanya selesai, seperti banten peduluan (klatkat) tandingan dan sebagainya yaitu sekitar menjelang tengah hari, acara dilanjutkan dengan makan bersama.
Selanjutnya datang karma (warga) perempuan dengan membawa banten (sesajen) yang akan dihaturkan dalam ngusaba ini. Seperti halnya makanan olahan yang disyaratkan bahan dalam banten inipun hanya menggunakan bahan yang dimasak direbus atau dipanggang saja. Dengan berdatangannya para warga perempuan Suasana menjadi cukup ramai. Karena acara ngusaba ini diikuti oleh 3 banjar di wilayah desa ini. Bahkan warga yang tinggal diluar desa bahkan di luar pulau menyempatkan untuk hadir dalam upacara ini.
Adalah menjadi kewajiban bagi Krama desa lanang (warga laki-laki) untuk membawa penjor dan sambeng. Penjor adalah batang bambu yang buku-buku dalamnya ditembuskan. Bambu yang digunakan untuk penjor ini bambu khusus yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai tiing tali dami. Penggunaan bambu ini bertujuan agar mudah dilubangi buku didalamnya dan bambunya juga tidak terlalu tebal. Panjang Bambu sekitar 3 meteran. Kemudian penjor ini diisi dengan tuak manis sekitar 3 liter dalam satu penjor yang akan digunakan untuk acara metabuh dalam ngusaba ini. Diujung penjor diisi dengan daun endong yang dilipat. Sedangkan sambeng adalah bambu berukuran kurang kebih 30 cm yang ditomes (potong miring) bagian atasnya sebagai sarana metabuh.
Acara ngusaba dipimpin oleh jero bayan. Pertama dengan menghaturkan banten, baik banten peduluan, banten yang dibawa krama istri (warga perempuan). Selanjutnya adalah persembahyangan secara tradisi di desa tersebut. Acara berikutnya adalah mesoda. Kemudian dilanjutkan dengan metabuh oleh krama lanang. Penjor yang berisi sisa air tuak manis yang sudah selesai dipakai metabuh biasanya diberikan kepada anak-anak yang hadir disana. Suasana yang begitu cair dan meriah ketika anak-anak tersebut berbagi tuak manis.
Acara berikutnya adalah persembahyangan lagi dengan menghaturkan banten klatkat di dua tempat yaitu di Dalem Pingit dan satunya di areal tempat metabuh. Acara ngusaba diakhiri dengan mejuryag (berebut) banten jumutan yang dihaturkan di banten klatkat. Meskipun awalnya berebut dengan seru namun setelah selesai mereka saling berbagi.
Oke itu satu cerita dari sebuah desa tua tentang Ngusaba Dalem. Semoga dilain kesempatan bisaabl4 abl2 abl1abl5 menuliskan cerita-cerita yang lainnya. Terimakasih kepada Guru Gede Wiratmaja Karang yang membangunkan saya dari “jeda” menulis melalui motivasinya yang Top…, Jro Gede Partha Wijaya sahabat terbaik dan juga Aya’ putranya serta Master Sang Guru “Oman Dollo” yang sudah bersama glalang gliling di TKP.
#SalamBudaya #saatnyamenulis …..

Gambar  —  Posted: September 24, 2016 in Pola Hidup Sehat

MUJAIR DALAM KERAMBA (#1)

Posted: Februari 14, 2016 in Pola Hidup Sehat

Salah satu ikon kuliner yang khas di miliki Bangli adalah Masakan Ikan Mujair nya. Beragam menu kan mujair yang ditawarkan seperti ikan mujair bakar, goreng, panggang dan yang paling khas adalah Jair menyatnyat dengan bumbu Balinya. Beberapa warung makan maupun yang sudah cukup memiliki nama di seputaran wilayah Kintamani hingga ke

Salah satu ikon kuliner yang khas di miliki Bangli adalah Masakan Ikan Mujair nya. Beragam menu kan mujair yang ditawarkan seperti ikan mujair bakar, goreng, panggang dan yang paling khas adalah Jair menyatnyat dengan bumbu Balinya. Beberapa warung makan maupun yang sudah cukup memiliki nama di seputaran wilayah Kintamani hingga ke Kota Bangli cukup berani dengan hanya menawarkan mujair sebagai pilihan menunya. Seperti warung makan di Seked, di Culali, di Batur, di Kedisan dengan Resto Apungnya.

Kenapa masakan mujair mampu menjadi ikonik wisata kuliner di Kintamani dan Bangli secara umum, hal ini tidak terlepas dari rasa ikan Mujair Danau Batur yang memang berbeda dengan Mujair atau Nila yang dikembangkan di daerah lainnya. Ikan Mujair Danau dibudidayakan dalam keramba-keramba yang dikelola oleh masyarakat di sekitar danau batur seperti Songan, Kedisan, dan Trunyan.

Perjalanan hari ini kami lakukan ber tiga yaitu dengan Jro Gede Partha Wijaya dan Komang Karwijaya. Rencananya hari ini perjalanan akan kami lakukan ke Giri Campuhan, Kecamatan Tembuku, Kab. Bangli. Namun karena Jro Gede Partha ada keperluan ke Songan jadi perjalanan dialihkan ke Songan dulu. Sahabat yang satu ini memang sedang mengembangkan usaha budidaya mujair dengan keramba di Danau Batur.

Cerita sepanjang perjalananpun berkisar tentang prospek ikan mujair sebagai salah satu komoditas pangan perikanan yang cukup tinggi konsumsinya. Data yang dirilis oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bangli menyebutkan bahwa budidaya ikan mujair di Danau sekitar 30 juta ekor setahun. Namun sayangnya Balai Benih Ikan (BBI) di Bangli (Sidembunut dan yang lainnya) hanya mampu mensuplay benih sekitar 12 juta ekor setahun, sehingga kekurangan benih ini di datangkan dari daerah lain seperti Bolangan, Kab. Tabanan dan Sangeh, Kab. Badung bahkan dari Jawa.

Lokasi keramba yang kami tuju berada di danau batur, disebelah timur Desa Songan. Karena keramba diletakkan di tengah perairan danau maka setelah tiba di Desa Songan, untuk mencapai kesana haru naik pedau atau kano. Cukup sulit untuk naik pedau ini karena syarat utamanya harus tenang. Semakin tidak tenang semakin oleng pedaunya. Kurang dari 10 menit untuk mencapai lokasi keramba. Dan ketika berada di keramba hamparan danau batur yang luas dengan view kanan kiri depan belakang yang luar biasa indahnya membuat betah tetap berada disana.

Ikan mujair yang di budidayakan di Keramba adalah ikan yang berukuran 7-9 yang merupakan hasil pendederan pada pembudidaya ikan. Awalnya para pendeder ini mengambil ukuran larva di BBI kemudian mereka pelihara hingga ukuran 7-9 tersebut. Keramba tempat pembudidayaan ikan mujair di danau batur yang saya kunjungi berukuran 4X4 meter untuk setiap petak/lubangnya. Bahan keramba menggunakan bambo petung dan untuk membuat mengambang digunakan bahan sterofoam. Keramba yang lainnya ada yang menggunakan drum atau gallon plastik. Untuk menjaga ikan-ikan agar tdak keluar dari keramba digunakan jarring. Jaring-jaring yang digunakan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan ikan. Selain itu perlu juga dipasang jarring diatasnya untuk melindungi ikan dari pemangsa dari udara yaitu burung-burung.

Bibit yang ditebar dalam satu petak keramba sebanyak 3.200 ekor. Pemberian pakan menyesuaikan dengan ukuran ikan dan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Masa panen ikan mujair yang dibudidayakan ini bekisar antara 4-5 bulan hingga mencapai ukuran konsumsi atau 3-4 ekor per kilogramnya. Jika dengan asumsi tingkat kematian yang paling tinggi, katakanlah 50% hasil yang didapatkan dari keramba ini sekitar 3 kwintal ikan mujair per petak keramba. Suatu usaha dengan prospek yang baik…  Namun bukan berarti usaha ini tanpa tantangan dan kendala. Justru karena pengelolaanya di alam tentunya factor utamanya adalah alam. Sebab suhu air, cuaca, bahkan kadang letupan belerang adalah faktor–faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh para pembudidaya ikan mujair dalam keramba.

Nah itu dulu cerita tentang mujair dalam keramba di danau batur. Cerita tentang manfaat makan ikan dan kaitannya dengan kesehatan nanti deh di tulisan #2 tentang ikan-ikan mujair dalam keramba.Bangli cukup berani dengan hanya menawarkan mujair sebagai pilihan menunya. Seperti warung makan di Seked, di Culali, di Batur, di Kedisan dengan Resto Apungnya.

Kenapa masakan mujair mampu menjadi ikonik dalam wisata kuliner di Kintamani dan Bangli secara umum, hal ini tidak terlepas dari rasa ikan Mujair Danau Batur yang memang berbeda dengan Mujair atau Nila yang dikembangkan di daerah lainnya. Ikan Mujair Danau dibudidayakan dalam keramba-keramba yang dikelola oleh masyarakat di sekitar danau batur seperti Songan, Kedisan, dan Trunyan.

Perjalanan hari ini kami lakukan ber tiga yaitu dengan Jro Gede Partha Wijaya dan Komang Karwijaya. Rencananya hari ini perjalanan akan kami lakukan ke Giri Campuhan, Kecamatan Tembuku, Kab. Bangli. Namun karena Jro Gede Partha ada keperluan ke Songan jadi perjalanan dialihkan ke Songan dulu. Sahabat yang satu ini memang sedang mengembangkan usaha budidaya mujair dengan keramba di Danau Batur.

Cerita sepanjang perjalananpun berkisar tentang prospek ikan mujair sebagai salah satu komoditas pangan perikanan yang cukup tinggi konsumsinya. Data yang dirilis oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bangli menyebutkan bahwa budidaya ikan mujair di Danau sekitar 30 juta ekor setahun. Namun sayangnya Balai Benih Ikan (BBI) di Bangli (Sidembunut dan yang lainnya) hanya mampu mensuplay benih sekitar 12 juta ekor setahun, sehingga kekurangan benih ini di datangkan dari daerah lain seperti Bolangan, Kab. Tabanan dan Sangeh, Kab. Badung bahkan dari Jawa.

Lokasi keramba yang kami tuju berada di danau batur, disebelah timur Desa Songan. Karena keramba diletakkan di tengah perairan danau maka setelah tiba di Desa Songan, untuk mencapai kesana haru naik pedau atau kano. Cukup sulit untuk naik pedau ini karena syarat utamanya harus tenang. Semakin tidak tenang semakin oleng pedaunya. Kurang dari 10 menit untuk mencapai lokasi keramba. Dan ketika berada di keramba hamparan danau batur yang luas dengan view kanan kiri depan belakang yang luar biasa indahnya membuat betah tetap berada disana.

Ikan mujair yang di budidayakan di Keramba adalah ikan yang berukuran 7-9 yang merupakan hasil pendederan pada pembudidaya ikan. Awalnya para pendeder ini mengambil ukuran larva di BBI kemudian mereka pelihara hingga ukuran 7-9 tersebut. Keramba tempat pembudidayaan ikan mujair di danau batur yang saya kunjungi berukuran 4X4 meter untuk setiap petak/lubangnya. Bahan keramba menggunakan bambo petung dan untuk membuat mengambang digunakan bahan sterofoam. Keramba yang lainnya ada yang menggunakan drum atau gallon plastik. Untuk menjaga ikan-ikan agar tdak keluar dari keramba digunakan jarring. Jaring-jaring yang digunakan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan ikan. Selain itu perlu juga dipasang jarring diatasnya untuk melindungi ikan dari pemangsa dari udara yaitu burung-burung.

Bibit yang ditebar dalam satu petak keramba sebanyak 3.200 ekor. Pemberian pakan menyesuaikan dengan ukuran ikan dan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Masa panen ikan mujair yang dibudidayakan ini bekisar antara 4-5 bulan hingga mencapai ukuran konsumsi atau 3-4 ekor per kilogramnya. Jika dengan asumsi tingkat kematian yang paling tinggi, katakanlah 50% hasil yang didapatkan dari keramba ini sekitar 3 kwintal ikan mujair per petak keramba. Suatu usaha dengan prospek yang baik…  Namun bukan berarti usaha ini tanpa tantangan dan kendala. Justru karena pengelolaanya di alam tentunya factor utamanya adalah alam. Sebab suhu air, cuaca, bahkan kadang letupan belerang adalah faktor–faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh para pembudidaya ikan mujair dalam keramba.

Nah itu dulu cerita tentang mujair dalam keramba di danau batur. Cerita tentang manfaat makan ikan dan kaitannya dengan kesehatan nanti deh di tulisan #2 tentang ikan-ikan mujair dalam keramba. (TS14022016)

Tirta Paceburan adalah sebuah air terjun yang berada di lereng Gunung Abang yang keberadaannya sangat disakralkan oleh masyarakat. Tirta Paceburan ini mempunyai beberapa nama lain atau sebutan seperti Tirta Sapujagat, Tirta Bentar Kedaton, dan Tirta Betel. Menurut masyarakat setempat lokasi ini memiliki keunikan dimana Air Terjun (Tirta Paceburan)  tidak pernah tidak mengalir meskipun di musim kemarau. Air itu mengalir dari ketinggian kira-kira di pertengahan Gunung Abang atau Gunung Tuluk Biu.

Tilem Kaulu, tanggal 7 Februari 2016 kami berniat untuk mendatangi air terjun ini. Pejalanan kali ini kami lakukan berdua, saya dengan Komang Karwijaya sedangkan Jro Gede Partha Wijaya tidak bisa ikut karena tidak enak badan dan demam, Wiwin Kayoan sedang ada acara Ngayah di Banjar, Komang Sutapa sedang melakukan Tugas Domestik, dan Made Sarjana sedang membangun sebuah Pondok di Carik Duang Tebihnya (piss pak made).

Tiba di Banjar Dukuh, Desa Abang Batu Dinding kami menuju titik rumah bapak Gede Darmika. Namun beliau sedang pergi memancing. Istri beliau ibu Wayan Penpen menyatakan jika ingin ke Tirta Paceburan beliau siap mengantar. Awalnya kami agak ragu namun dijelaskan bahwa beliau sudah beberapa kali tangkil kesana. Jadi keraguan kami sedikit berkurang.

Kami berangkat dari balai banjar Dukuh, Desa Abang Batu Dinding sebagai titik awal. Melintasi areal perkebunan warga dengan hamparan warna hijau yang menye

jukkan mata. Beberapa tanaman pertanian yang menjadi komoditas disini seperti bawang, kol dan juga kentang. Setelah melewati areal perkebunan kami pun mulai menyusuri hutan dengan menanjak. Namun perjalanan ini tidak terlalu melelahkan karena rimbunnya dedaunan menyebabkan panas matahari tidak terlalu terasa.  Akhirnya setelah empat puluh lima menit berjalan kami pun tiba di pelinggih pura yang oleh masyarakat setempat disebut Pura Betel. Pura ini mempunyai posisi yang sejajar jika ditarik garis lurus dengan titik tengah Gunung Batur di Barat.

Selanjutnya kami bersembahyang di pura tersebut. Awalnya saya berpikir perjalanan masih cukup jauh, ternyata perkiraan saya salah. Setelah beberapa meter berjalan kamipun tiba di Air Terjun Tirta Paceburan. Sungguh saya sangat takjub dengan keindahan tempat ini dan juga ketenangan yang menyejukkan hati. Kami pun melakukan persembahyangan kembali. Menurut bu wayan, dari cerita yang pernah dia dengar dari para tetua bahwa Tirta Paceburan ini adalah tingkat yang ketiga dari sumber air. Namun beliau menyatakan belum pernah ke sumber Tirta nya.

Setelah mengambil beberapa foto akhirnya kami memutuskan untuk balik ke Desa karena mendung yang cukup tebal. Namun kami tidak balik menempuh jalan yang di awal, melainkan berjalan menyusuri badan sungai yang berbatu. Sungguh batu-batu besar dan kecil yang memenuhi badan sungai seperti manik-manik yang sangat indah. Batu dan pasir sepanjang badan sungai tersebut adalah longsoran dari gunung. Dan seperti yang diceritakan oleh masyarakat setempat setelah beberapa meter air dari Tirta Paceburan pun sirna. Sehingga pemandangan berikutnya hanya batu dan pasir kering yang di badan sungai.

Setelah di foto Tirta Paceburan di Posting oleh rekan Komang Karwijaya beragam tanggapan dan masukan tersampaikan. Salah satunya pesan yang disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat Bapak Adi Fatur (Nyoman Basma) adalah bahwa menjaga nilai kesakralan dari pada Fungsi Tirta ini adalah satu hal yang wajib dilakukan. Karena air terjun ini bukanlah air terjun biasa seperti halnya air terjun di daerah lain. Menurut beliau didaerah tersebut (Kintamani Timur) tak ada satu mata air pun yang memiliki debit yang memadai . Tapi Tirta ini sungguh berbeda Fakta, muncul dari ketinggian yang tandus dan irama aliran airnya mengiringi musim. Demikian juga keberadaan Tirta ini sangat terkait dengan prasasti Pura Tuluk Biu serta deretan petiratan Ida Betara Tuluk Biu.

Jadi bagi yang ingin datang/tangkil kesini, Jaga Kebersihan, Kesopanan dan Selalu Respect terhadap apapun yang disampaikan oleh Tokoh dan Masyarakat Lokal. Mari bersama kita jaga kelestariannya  (TS08022016)

RUMAH BAMBU DI BUBUNG KLAMBU

Posted: Februari 8, 2016 in Pola Hidup Sehat

Menyebut nama Bubung Klambu mungkin belum banyak dikenal orang. Lokasi tepatnya adalah dari Penelokan, Kintamani turun ke arah bawah (Danau Batur) dan lebih kurang 100 meter dari penelokan belok ke kiri.

Bubung Klambu adalah salah satu kawasan dengan panorama yang sangat indah. Pemandangan Gunung Batur dari sisi barat dilengkapi dengan Danau Batur dan Gunung Abang diseberangnya. Dari view point Bubung Klambu juga kita dapat memandang hamparan black lava dan Bukit Sampyang Wani yang hijau.

Namun apa sih yang menjadi keunikan utama yang membuat saya dan beberapa teman sampai beberapa kali berkunjung kesana? Alasan utamanya adalah karena ada seorang teman yang begitu polos dan ramah yang akan menyambut ketika datang ke Bubung Klambu. Beliau adalah Bpk Nyoman Arca (ini nama beken beliau di komunitas FB hehehee) Kesederhanaan dan ketulusan pertemanan yang beliau tampilkan sungguh tidak sebanding dengan beragam prestasi yang sudah diperoleh hingga ke tingkat nasional.

Yang berikutnya adalah Bambu-bambu di Bubung Klambu. Inilah yang mengantarkan pak Nyoman Arca dan teman-teman kelompok Tani Bambu Hidup Rukun meraih prestasi-prestasinya.

Bangli secara umum adalah kabupaten yang memiliki beragam jenis tanaman bambu. Bambu biasaya kita kenal hanya sebagai tanaman penjaga jurang namun di Kabupaten Bangli dan juga termasuk di Bubung Klambu merupakan tanaman yang di budidayakan. Luas areal bambu di Bubung Klambu sekitar 12 hektar yang dikelola bersama oleh 22 anggota kelompok tani bambu Hidup Rukun. Jenis tanaman bambu yang ada di bubung klambu antara lain bambu/tiing jempiit, tiing tali, tiing petung abu, petung item dan bambu tabah. Kelompok tani hidup rukun juga bekerja sama dengan ITTO yaitu organisasi internasional dalam bidang konservasi hutan.

Selanjutnya dengan adanya variasi tanaman bambu di Bubung Klambu akhirnya dikembangkan pula sebagai Agro Wisata yang dikenal dengan nama Agro Wisata Tiing Bali Bubung Klambu. Dengan terus berbenah agrowisata ini semakin dilirik oleh wisatawan.

Pengembangan berikutnya adalah dengan disediakannya guest house bagi tamu yang ingin menginap di bubung klambu. Saat ini sudah tersedia 3 kamar bernuansa bambu yang nyaman sebagai tempat beristirahat.

Sungguh nuansa berbeda yang luar biasa dirasakan oleh tamu yang menginap disini. Agrowisata Tiing Bali juga menyiapkan track untuk para tamu yang ingin berjalan-jalan melihat lebih dekat tanaman beragam bambu yang ada.

Jadi jika anda merasa jenuh dengan suasana perkotaan dan ingin melepaskan penat, memperoleh suasana baru penuh inspirasi dan merefress pikiran tidak ada salahnya untuk menginap di Agrowisata Tiing Bali (TS08022016).

Masalah sampah saat ini mungkin menjadi persoalan  di semua tempat. Dampaknya sangat dirasakan ketika musim hujan ini. Apalagi sampah plastik… yang tidak akan hancur dalam waktu puluhan tahun. Banjir akibat sumbatan sampah pada tempat-tempat aliran air menjadi pemandangan yang sangat lazim. Tapi apa kita akan mengeluh saja ketika banjir datang tanpa berusaha menyadarkan diri sendiri sejak awal. Sampah yang awalnya menjadi masalah rumah tangga berlanjut menjadi masalah-masalah komunitas dan lingkungan diatasnya.

Salah satu potret menumpuknya sampah adalah yang terjadi di semua sisi danau batur dan seputaran Kaldera Batur. Kaldera yang berbentuk cekungan super lebar ini jika tidak mendapat penanganan sejak dini, bayangan saya tidak mustahil akan menjadi “tempat sampah raksasa..”  Bahkan jika sampah ini mengikuti aliran ir tentunya akan masuk ke Danau Batur yang indah ini…

Salah satu titik sampah yang ramai menjadi pembicaraan di media sosial adalah di Desa Trunyan dan persis posisinya di dermaga perahu tempat penyembrangan ke objek wisata kuburan taru menyan… Tentu hal ini ironis sekali… daerah tujuan wisata yang mendunia menjadi tenggelam keharuman namanya oleh sampah plastik yang bertebaran. Banyak postingan dan beragam komentar yang miring muncul karena sampah ini. Meskipun demikian… mungkin ini adalah bentuk kepedulian terhadap kondisi yang mereka saksikan. Kenapa saya katakan kepedulan, karena postingan itu ditindaklanjuti oleh beberapa komunitas yaitu Forum Peduli Bangli (FPB), Caldera Trail Adventure (CTA), Badan Lingkungan Hidup Kab. Bangli, Pimpinan DPRD Bangli dan masyarakat untuk melakukan kegiatan menyapu bersih tumpukan sampah plastik tersebut… Kegiatan aksi ini tentunya merupakan hal yang positif tetapi sifatnya pastilah sangat insidental dan tentunya harus diikuti dengan kesadaran masyarakat lokal untuk menjaganya tetap bersih.

Tetapi ada satu kendala yang muncul, meskipun masyarakat sudah mengumpulkan sampah tersebut… sepanjang belum ada tata kelola sampah tentunya ini menjadi hal yang absurd untuk sebuah slogan Bali Clean and Green, Bangli bersih, maupun Danau Lestari… karena semuanya tetap menumpuk.

Ada sebuah pemikiran terkait tata kelola sampah ini (yang tentunya mungkin bukan pemikiran terbaik.. hehee) namun mesti melibatkan semua pihak dan lapisan masyarakat dan juga pemerintah.

  1. Semua komponen masyarakat hendaknya dihimbau untuk memisahkan sampah rumah tangga yang berbahan plastik dan sampah organik. Karena sampah plastik inilah yang perlu dikeluarkan dari kawasan atau di kelola lebih lanjut. Sampah organik tentunya disediakan tempat saja dan akan hancur dan menjadi sumber pupuk yang baik.
  2. Anak-anak harus sudah mulai diajarkan sejak dini tentang pengelolaan sampah ini.. jadi peran sekolah untuk mengajarkan ini sebagai salah satu keterampilan hidup untuk anak-anak. Namun perlu dicatat bukan salah kaprah seperti anak-anak disuruh membawa sampah plastik ke sekolah (emang sekolah collector sampah? Heheee)
  3. Sebagai konsekuensi dari daerah tujuan wisata dengan target pariwisata massa tentunya sampah bukan hanya berasal dari rumah tangga saja, wisatawan pun datang juga membawa sampah (box makanan, kemasan makanan, botol minuman, dan lain-lain) tentunya ini membutuhkan sarana tempat sampah sehingga tidak dibuang sembarangan oleh wisatawan.
  4. Peran pemerintah adalah memfasilitasi pengangkutan sampah plastik ini keluar dari kawasan. Maksud keluar disini adalah bisa ke tempat pembuangan akhir (TPA). Jika pemerintah kabupaten terlalu lambat kenapa tidak dari desa berinisiatif untuk mengadakan kendaraan pengangkut sampah. Pengelolaan ini tentunya akan membutuhkan tenaga kerja dan biaya operasional. Tapi sebuah usaha tentunya pasti membutuhkan modal. Sehingga perlu pembicaraan lebih detail di tingkat desa dengan melibatkan semua komponen.
  5. Alternatif lainnya adalah dengan membawa ke tempat pengelolaan sampah (Bank sampah) jika sampah plastik ini bernilai ekonomis. Pemikiran ini berdasar pada bahwa sekarang ini banyak sampah plastik banyak diperjualbelikan untuk didaur ulang. Jadi kenapa tidak merubah MIS (sampah) menjadi PIS (uang)?

Uraian ini adalah untaian pengamatan dan pengalaman. Mungkin terlalu sederhana bagi orang yang ahli  dalam bidang sampah dan pengelolaan lingkungan. Tapi kenapa tidak? Ayo kita mulai dari diri sendiri, keluarga sendiri dan lingkungan sendiri…. (TS05022016)

 

 

Bangli dengan beberapa sungai besarnya dengan air yang melimpah ternyata menyimpan beragam potensi pertanian yang mampu sebagai penggerak ekonomi masyarakatnya. Salah satunya adalah produksi kecambah (taoge). Produksi pertanian kecambah (taoge) yang cukup besar dilakukan di aliran sungai tampadehe lingkungan/banjar dinas Bebalang dan aliran sungai Lagaan Di lingkungan/banjar dinas Tegal. Kedua banjar ini merupakan lingkungan yang ada Kelurahan Bebalang, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli.

Produk pertanian kecambah (taoge) ini biasa dikatakan paling singkat masa panennya dibandingkan produk pertanian lainnya yaitu hanya 3 hari dari tanam hingga masa panen.

Produksi kecambah yang di alran sungar tampadehe ini adalah untuk pemenuhan pasar di kabupaten Bangli, Sedangkan produksi di aliran sungai lagaan, tegal melayani pasar di Kabupaten Gianyar. Hampir 2 sampai 3 mobil bak terbuka yang mengangkut kecambah (taoge) diberangkatkan ke pasar Gianyar setiap harinya.

Kecambah (Taoge) adalah salah satu jenis sayuran yang sangat familiar bagi ibu-ibu. Taoge merupakan kecambah yang berasal dari biji-bijian, seperti kacang jijau dan kacang kedele. Bahkan di Bangli ada yang membuat kecambah dari kacang kara (koro) dan setelah diolah sering disebut sebagai “jukut tongkol”.

Bentuk kecambah diperoleh setelah biji kacang-kacangan diproses selama beberapa hari. Untuk memperoleh kecambah, dilakukan dengan melewati beberapa proses yang tidak terlalu rumit. Pertama bahan (kacang ijo/kacang kedele) dicuci bersih kemudian diletakkan dalam sok (wadah yang terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran 45X45 cm). Setiap sok menampung lebih kurang  7 kg kacang. Kemudian ditutup dengan daun pisang dengan tujuan agar gelap. Agar mau bertumbuh dengan baik, kacang hijau/kacang kedele bibit secara rutin disiram sebanyak 3 kali setiap hari. Penyiraman biasanya dilakukan pagi, siang dan sore hari. Karena kegiatan ini dilakukan secara rutin maka saat menyiram sore hari biasanya langsung dilakukan panen untuk kecambah yang akan dijual esok paginya.  Satu sok yang berisi bibit 7 kg biasanya akan menghasilkan rata-rata 20 kg kecambah. Nah, setelah itu kecambah siap berpindah tangan dari petani, pedagang dan akhirnya pembeli. Pola perdagangan ada beberapa petani produsen yang langsung menjual secara eceran dipasar namun ada juga yang diambil oleh pedagang lainnya.

Sebagai penambah wawasan tentang kecambah ini, kita perlu tahu juga apa sih kelebihannya dibandingkan dengan bahan pangan lainnya. Kecambah (taoge) mempunyai kandungan zat gizi yang lebih dibandingkan dengan bentuk asalnya. Seperti misalnya protein, protein pada taoge lebih tinggi dibandingkan dengan protein biji asalnya. Hal ini bisa terjadi karena selama proses menjadi kecambah terjadi pembentukan asam-asam amino essensial yang merupakan penyusun protein. Kandungan zat gizi lainnya dalam taoge yaitu vitamin A, B Kompleks, C, E serta mineral seperti  kalsium, zat besi (Fe), magnesium, kalium, asam folat, dan juga tentunya serat.

Kepopuleran taoge tidak terlepas dari salah satu manfaatnya untuk meningkatkan kesuburan. Hal ini dikarenakan kandungan Vitamin E yang banyak terkandung di dalamnya. Kandungan Vitamin E ini dapat membantu kesuburan pada kaum perempuan, mencegah kanker payudara, mengurangi gejala pre menstruasi syndrome (PMS), pramenopause dan gangguan akibat menopause.

Taoge juga merupakan salah satu sumber antioksidan, sehingga mampu memperlambat proses penuaan dini. Bagi yang peduli akan penampilan Taoge baik untuk kecantikan karena kandungan Vitamin E nya berfungsi untuk membantu meremajakan dan menghaluskan kulit, menghlangkan vlek-vlek hitam pada wajah, menyembuhkan jerawat, menyuburkan rambut dan melangsingkan tubuh.

Namun ada satu catatan dari segi kesehatan. Bagi penderita asam urat, sebaiknya berhati-hati mengkonsumsi taoge… karena taoge ini pada dasarnya berasal dari kacang-kacangan yang dapat menaikkan kadar asam urat (tu suira, 07012016).

10606141_1592800914295099_7224061758214846516_n
foto by Komang Karwijaya

Ini adalah satu tulisan lain dari catatan perjalanan mengenal lebih dekat Desa Mengani, Kintamani, Bangli. Karena ada bagian perjalanan yang dilakukan mencari air terjun melintasi tegalan (perkebunan) yang merupakan sisi tebing dan juga menyusuri sungai maka dalam perjalanan cukup banyak ditemukan tanaman paku sayur (Diplazium esculentum) yang merupakan sejenis paku/pakis yang biasa dimakan ental mudanya oleh penduduk Asia Tenggara dan kepulauan di Samudra Pasifik. Jadi bukan hanya di sini saja loo… Paku sayur di jepang dikenal sebagai Kuware Shida, di Philipina disebut Paku-Pako-Paco, di India dinamai Lingra-Lingudu-Dhenkir Shaak, di Hawaii dikenal sebagai Pokole, dan Malaysia biasa disebut Pucuk paku.

Paku sayur ini biasanya tumbuh di tepi sungai atau di tebing-tebing yang lembab dan teduh. Dan sangat tidak umum orang membudidayakan tanaman paku ini. Kalaupun di jual di pasar, biasanya pedagang  memetik di sungai atau di tegalan.

Ternyata sayur paku juga mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah untuk mengatasi sulit buang air besar. Hal ini dikarenakan kandungan seratnya yang tinggi. Kandungan khlorofilnya (zat hijau daun) memberi manfaat adalah untuk detoks sampah pada saluran cerna dan hati. Paku sayur juga mengandung Beta-karoten yang merupakan sumber vitamin A yang bermanfaat untuk anti penuaan dini dan anti infeksi tubuh. Paku sayur juga merupakan sumber vitamin B-Kompleks dan mineral seperti Kalium, Natrium dan magnesium yang alami yang diperlukan tubuh untuk metabolism optimal. Dan satu satu lagi pucuk mudanya memiliki kandungan omega-3 dan omega 6 yang dapat membantu kerja otak.

Sayur Paku dijadikan bahan makanan dengan mengolah sesuai daerahnya juga. Misalnya di Minangkabau ada masakan “Gulai-Pakis”, wilayah india terkenal dengan kulinernya : “Jhol Cury“.
Pengolahannya untuk sayuran biasanya ditumis, oseng-oseng, dijadikan lalapan (tapi setelah direbus) atau digulai. Bahkan di satu tempat (di Desa Cekeng, Bangli) yang pernah kami kunjungi disana sayur pakis dijadikan salah satu bahan sayuran lawar.

Namun yang perlu diperhatikan adalah konsumsi sayur pakis dalam keadaan mentah tidak dianjurkan karena mengandung asam sikimat yang mengganggu pencernaan manusia (tu suira).