Antisipasi Dampak Pemanasan Global, Tingkatkan Gizi Keluarga

Posted: Mei 18, 2012 in Pola Hidup Sehat

Gaung tentang pemanasan global terdengar begitu membahana di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Apalagi setelah diselenggarakannya konferensi perubahan iklim PBB tanggal 3-14 Desember 2007 di Nusa Dua, Bali. Meskipun banyak pihak yang menyatakan pro dan kontra mereka terhadap konsep “hijau” yang dibahas saat itu, bagaimanapun juga kita sudah dihadapkan pada kondisi peningkatan pemanasan global tersebut.

Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global yang terjadi pada kisaran 1,5–4 derajat Celcius pada akhir abad 21.

Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dan sebagainya.

Selain itu pemanasan global juga berdampak terhadap aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi :

  • gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai,
  • gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara
  • gangguan terhadap permukiman penduduk,
  • pengurangan produktivitas lahan pertanian,
  • peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dan lain-lain.

Perubahan pola cuaca yang terjadi belakangan telah mengakibatkan banyak hal. Salah satunya adalah memengaruhi pertanian yang bergantung pada musim. Jika pertanian sudah terpengaruh berarti hal ini sudah menyangkut juga terhadap ketahanan pangan. Ketahanan pangan memang menjadi salah satu titik perhatian utama; sebab kelangsungan negara ini tentu bertumpu pada ketersediaan padi disamping alternatif bentuk pangan lain seperti umbi-umbian dan biji-bijian.

Pemanasan global adalah masalah kita semua. Tidak hanya kita di negara kepulauan, juga semua wilayah permukaan bumi. Karena perubahan iklim menjadi masalah kita bersama, semua pihak harus terlibat mengatasinya. Jika kita mau menyelamatkan bumi dan segala kehidupan di atasnya, tidak ada cara lain, sekarang kita harus bertindak menyelamatkan bumi dari pemanasan global.

Apa yang bisa kita lakukan ???

Sesuai dengan harapan Menteri Negara Lingkungan Hidup semua masyarakat agar berperan aktif dalam menjaga lingkungan agar tetap lestari disamping menggalakkan kegiatan penghijauan di lingkungan termasuk di tingkat rumah tangga. Selanjutnya dengan memperhatikan situasi dan keprihatinan yang sedang dihadapi di Indonesia, ada satu konsep yang mesti dihidupkan kembali yakni Pemanfaatan Pekarangan Sebagai Sumber Gizi Keluarga. Momentum memanasnya issu pemanasan global ini mungkin cukup tepat untuk menggugah kesadaran masyarakat dan menggiatkan kembali tradisi pemanfaatan pekarangan sebagai sumber gizi keluarga. Dengan kata lain kita turut melakukan upaya penghijauan meskipun itu dilaksanakan di tatanan rumah tangga dengan mulai menambahkan pohon-pohon produktif yang nantinya hasilnya dapat dimanfaatkan untuk menambah sumber daya pangan rumah tangga seperti pohon buah-buahan maupun sayuran.

Pemanfaatan lahan pekarangan di berbagai daerah sampai saat ini masih banyak yang belum mendapat perhatian dan penanganan yang optimal. Banyak dijumpai lahan pekarangan yang dibiarkan begitu saja tanpa diusahakan. Seakan kita kehilangan tanah di depan mata kita sendiri. Sebagai gambaran, bahwa dari lahan yang dapat diusahakan di Pulau Jawa, sebesar 20% atau sekitar 8 juta Ha adalah lahan Pekarangan (Direktorat Tanaman Buah, 2003). Ini tentunya sebuah sumer daya yang tidak sedikit dan merupakan suatu potensi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan akan gizi keluarga di samping juga dapat berperan sebagai salah satu usaha tani yang dapat diandalkan untuk menopang ekonomi rumah tangga.

Bagi masyarakat perkotaan, dimana kepemilikan lahan umumnya sangat terbatas sehingga lahan pekarangan umumnya sangat sempit, pemanfaatan pekarangan khususnya untuk budidaya buah-buahan dan sayur dapat dioptimalkan antara lain melalui pemanfaatan pot. Jika dikembalikan lagi kepada konsep menjaga lingkungan, maka sangat dianjurkan untuk memanfaatkan barang bekas seperti ember dan sebagainya sebagai pot tempat tanaman. Pemilihan jenis komoditas dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dan umumnya bagi masyarakat perkotaan lebih ditekankan pada keindahan, sehingga lebih berfungsi sebagai tanaman hias.

Namun upaya ini harus dilakukan secara berkelanjutan, dengan kata lain kegiatan ini tidak dihentikan dengan sebatas menanam pohon baru saja, tapi tetap memelihara dan mengembangkan pohon-pohon baru yang lain. Berikutnya sudah tentu jika pohon tersebut terawat dengan baik akan mampu menghijaukan rumah kita sehingga dapat menyerap karbon yang berdampak terhadap pemanasan global. Dan tentunya juga menambah sumber daya gizi keluarga melalui hasilnya berupa buah maupun sayur sebagai hasil pemanfaatan pekarangan (Suiraoka_052012).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s