PROMOSI KESEHATAN UNTUK MEWUJUDKAN PHBS DI TATANAN SEKOLAH

Posted: Mei 18, 2012 in Pola Hidup Sehat

 

A. Pendahuluan

Reformasi bidang kesehatan di Indonesia sebenarnya sudah dilaksanakan sejak satu dekade yang lalu yaitu tahun 1998. Pada saat itu sudah ditetapkan Visi, Misi dan Strategi Pembangunan Kesehatan di Indonesia. Visi Pembangunan Kesehatan di Indonesia direfleksikan dalam sebuah motto yang berbunyi “Indonesia Sehat 2010”. Pada tahun 2010 bangsa Indonesia diharapkan mencapai tingkat kesehatan masyarakat yang ditandai dengan penduduknya : 1) hidup dalam lingkungan yang sehat, 2) berperilaku hidup bersih dan sehat serta 3) mampu menyediakan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, sehingga 4) memiliki derajat kesehatan yang tinggi.

Sebagai dampak dari transisi demografi dan transisi epidemiologi yang berkepanjangan, pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada beban ganda. Adapun beban ganda dimaksud adalah disatu sisi, penyakit menular belum sepenuhnya dapat diatasi sedangkan disisi lain sudah terjadi peningkatan penyakit tidak menular. Beban ganda ini sudah seharusnya mendapat penanganan secepatnya, karena akan berdampak terhadap masalah sosial, ekonomi dan kesehatan. Untuk itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan pendekatan baru dalam pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 dimana upaya pencegahan dan promosi kesehatan lebih diutamakan tanpa mengabaikan upaya pengobatan dan rehabilitasi. Sebagaimana yang tercantum dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2004-2009 bahwa pembangunan kesehatan memprioritaskan upaya promotif dan preventif yang dipadukan secara seimbang dengan upaya kuratif dan rehabilitatif.

Penekanan terhadap pencegahan dan promosi kesehatan ini tidak terlepas dari masalah-masalah penyakit akibat perilaku dan perubahan gaya hidup sebagai akibat semakin cepatnya perkembangan dalam era globalisasi. Akibat kompleksitas masalah kesehatan ini maka perbaikan tidak hanya dapat dilakukan pada aspek pelayanan kesehatan namun juga perbaikan pada lingkungan dan rekayasa faktor kependudukan atau faktor keturunan, tetapi perlu memperhatikan faktor perilaku yang mempunyai andil cukup besar terhadap munculnya masalah kesehatan.

Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu dari 12 program pembangunan kesehatan dalam RPJMN 2004-2009. Dimana program ini ditujukan untuk memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu menumbuhkan perilaku hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber masyarakat.

Mengingat dampak dari perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, maka diperlukan berbagai upaya untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat. Salah satunya melalui program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga merupakan salah satu kondisi yang ingin dicapai pada tahun 2010. Tujuan PHBS adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat agar hidup bersih dan sehat, serta meningkatkan peran serta aktif masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

Adapun tatanan PHBS yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan ada lima antara lain : Tatanan Rumah Tangga, Sekolah, Tempat Kerja, Sarana Kesehatan dan Tempat-tempat Umum.

Tulisan ini khusus membahas upaya promosi kesehatan di sekolah yang merupakan salah satu tatanan PHBS. Adapun fokus pengamatan dilaksanakan di tingkat sekolah dasar dengan pertimbangan bahwa pendidikan yang terjadi pada usia sekolah dasar akan menjadi dasar dan bekal anak-anak ke jenjang berikutnya termasuk dalam menghadapi kehidupan di masa mendatang. Selain itu anak sekolah dasar juga diharapkan sebagai agen pembaharuan yang diharapkan dapat menyampaikan informasi kesehatan yang diperolehnya di sekolah ke tatanan rumah tangga mereka.

 


B. Tujuan

Tujuan umum dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pelaksanaan promosi kesehatan untuk mewujudkan PHBS di tatanan sekolah. Tujuan khususnya adalah: 1) untuk menjelaskan sekolah sebagai salah satu tatanan PHBS dan target promosi kesehatan; 2) untuk menjelaskan kegiatan kunci dan strategi promosi kesehatan; dan 3) untuk menjelaskan pengalaman promosi kesehatan yang dilaksanakan berkaitan dengan sebagai wujud nyata pelaksanaan PHBS di tatanan sekolah.

 

C. Sekolah sebagai salah satu tatanan PHBS dan Target Promosi Kesehatan

Sekolah sebagai suatu tatanan adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain, berinteraksi dan melakukan aktifitas lainnya. Sebagai tatanan PHBS indikator yang harus diamati dikelompokkan menjadi 2 yaitu perilaku dan lingkungan. Indikator perilaku meliputi : 1) kebersihan pribadi, 2) tidak merokok, 3) olah raga teratur dan 4) tidak menggunakan Napza. Sedangkan dari segi lingkungan meliputi : 1) ada jamban, 2) ada air bersih, 3) ada tempat sampah, 4) ada saluran pembuangan air limbah (SPAL), 5) ventilasi, 6) kepadatan, 7) ada warung sehat, 8) ada UKS dan 9) ada taman sekolah.

Untuk mewujudkan PHBS di tatanan sekolah juga diperlukan pengelolaan manajemen PHBS yang melalui tahapan pengkajian, perencanaan, penggerakan pelaksanaan sampai dengan pemantauan dan penilaian. Yang selanjutnya kembali ke proses semula, sebagaimana digambarkan sebagai berikut :

Model  1.

Tahapan pengelolaan manajemen PHBS

 

Sekolah sebagai salah satu sasaran atau target pelaksanaan promosi kesehatan sebenarnya sudah sejak lama. Sebagaimana pertama telah dikumandangkan oleh WHO Expert Comitte on Health Education pada tahun 1954 yang mengidentifikasi adanya peran sekolah secara signifikan dapat memperbaiki status kesehatan para remaja. Sejak saat itu WHO menjadi acuan pelaksanaan dan advokasi promosi kesehatan di sekolah di seluruh dunia.

Pendidikan kesehatan sekolah komprehensif yang dikembangkan oleh WHO, UNESCO dan UNICEF tahun 1992, mengidentifikasi lima keuntungan yaitu :

  1. Bukti yang kuat menunjukkan adanya keterkaitan antara status kesehatan dan prestasi belajar. Hal ini membuktikan bahwa kesehatan dan pendidikan memiliki kaitan yang erat.
  2. Hasil penelitian menunjukkan salah satu determinan penting  kesehatan seorang anak adalah tingkat pendidikan ibunya. Oleh karenanya dengan meningkatkan pendidikan calon ibu (anak perempuan di sekolah) pada akhirnya akan memberikan dampak positif di masa yang akan datang.
  3. Sekolah merupakan tempat yang penting untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dan pelayanan kesehatan untuk siswa, keluarga dan masyarakat secara luas.
  4. Hubungan antara proses belajar di sekolah dan perilaku kesehatan di luar sekolah perlu ditingkatkan
  5. Pendidikan ketrampilan hidup membantu para siswa untuk berfikir kritis tentang kesehatan dan isu-isu sosial, mencari pemecahan masalah kesehatan oleh semua pihak dan menyediakan mereka ketrampilan untuk dapat berperan dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.

 

Selanjutnya dalam pelaksanannya salah satu model program promosi kesehatan di sekolah yang komprehensif (Allensworth dan Kolbe, 1987) yang mungkin dapat diterapkan untuk mencapai PHBS di sekolah seperti digambarkan dalam bagan berikut :

 

 

 

 

 

Model  2.

Comprehensive school health – a model of the relationships of eight components with behavioral and educational outcomes

 

Dari model diatas dapat dipelajari bahwa ada delapan komponen program yang saling berhubungan dalam program kesehatan sekolah yang komprehensif yaitu pelayanan kesehatan sekolah, pendidikan kesehatan, lingkungan sekolah yang sehat, promosi kesehatan masyarakat dan sekolah yang terintegrasi, pendidikan jasmani di sekolah, pelayanan makanan, konseling, dan promosi kesehatan bagi guru staf sekolah. Kedelapan faktor ini akan berpengaruh terhadap perilaku sehat siswa yang nantinya akan berpengaruh terhadap derajat kesehatan serta performa pengetahuan dari siswa baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

 

D. Kegiatan Kunci dan Strategi Promosi Kesehatan di Sekolah

Dalam melaksanakan gerakan promosi kesehatan, dirumuskan lima kegiatan kunci yang dapat meningkatkan status kesehatan yang dikutip dari The Ottawa Charter for Health Promotion, yaitu :

1.    Pemantapan kegiatan masyarakat

2.    Menciptakan kebijakan yang berwawasan kesehatan

3.    Menciptakan lingkungan yang mendukung hidup sehat

4.    Mengembangkan ketrampilan individu

5.    Melakukan reorientasi pelayanan kesehatan

Strategi yang dilaksanakan guna mendukung kegiatan kunci tersebut adalah :

  1. Strategi Advokasi dilakukan dengan pengembangan kebijakan yang mendukung pembangunan kesehatan melalui konsultasi pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan lain kepada para pengambil keputusan baik kalangan pemerintah, swasta maupun pemuka masyarakat.
  2. Strategi Bina Suasana dilakukan dengan a) Pengembangan potensi budaya masyarakat dengan mengembangkan kerjasama lintas sektor termasuk organisasi kemasyarakatan, keagamaan, pemuda, wanita serta kelompok media massa.   b) Pengembangan penyeleggaraan penyuluhan, mengembangkan media dan sarana, mengembangkan metode dan teknik serta hal-hal yang mendukungan penyelenggaraan penyuluhan.
  3. Strategi Gerakan Masyarakat dilakukan dengan a) Pendekatan kepada kelompok sasaran. b) Kegiatan penyuluhan langsung atau melalui media, baik kepada perorangan, kelompok maupun masyarakat luas. c)  Pengkajian masalah di daerah binaan PHBS. d) Pelatihan/orientasi bagi petugas kesehatan Lintas sektor, Lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan kelompok Profesi.

Promosi kesehatan  sekolah yang dilakukan mencakup :

  1. Peningkatan status kesehatan semua anggota di lingkungan sekolah
  2. Berkaitan dengan apa yang diajar di kelas untuk mencapai status kesehatan sekolah di luar sekolah
  3. Mengidentifikasi peran penting ruang lingkup pendidikan fisik dan kesehatan dimasukkan dalam kurikulum sekolah
  4. Mengidentifikasi pengaruh nilai-nilai budaya sekolah, lingkungan sosial dan fisik untuk mewujudkan kesehatan siswa dan staf sekolah
  5. Memberi penghargaan kepada orang tua dan anggota masyarakat lain yang telah memberi kontribusi untuk kesehatan bagi masyarakat sekolah

Dalam melaksanakan promosi kesehatan di sekolah tiga komponen penting yang saling terkait adalah kurikulum kesehatan sekolah (School health curriculum),  lingkungan kesehatan sekolah (school health environment) dan keterlibatan orang tua dan masyarakat (parent and community involvement) sebagaimana digambarkan dalam model berikut :

 

 

 

 

 

 

Model 3.

Health Promoting School Framework

 


Beberapa hal yang harus diperhatikan atau dapat dikerjakan dari masing-masing komponen dari model diatas adalah :

Kurikulum sekolah :

  1. Kurikulum yang relevan
  2. Sumber yang baik
  3. Pengembangan yang profesional untuk para guru
  4. Biaya yang cukup
  5. Murid, orangtua dan guru turut memberi input dalam pendidikan kesehatan yang dimasukkan dalam kurikulum
  6. Gaya belajar dari semua siswa bisa didukung
  7. Tujuan akhir yang diharapkan jelas

Lingkungan kesehatan sekolah :

  1. Pengembangan, penerapan dan evaluasi kebijakan kesehatan sekolah
  2. Lingkungan bermain yang aman
  3. bebas rokok di sekolah
  4. Tempat berteduh yang cukup
  5. Layanan kesehatan yang terintegrasi, termasuk konseling murid
  6. kegiatan minggu sadar kesehatan
  7. Pajangan perpustakaan
  8. Counter promosi kesehatan

Keterlibatan orang tua dan masyarakat

  1. Pelatihan pendidikan kesehatan untuk orang tua dan anggota masyarakat
  2. pemberian pesan-pesan kesehatan yang biosa dibawa pulang
  3. Keterlibatan orangtua dalam kebijakan sekolah
  4. Informasi kesehatan melalui newsletter sekolah
  5. Kegiatan kelompok masyarakat yang mendukung promosi kesehatan di sekolah

 


E. Pengalaman Promosi Kesehatan di tatanan Sekolah dasar

Program promosi kesehatan yang telah dilaksanakan oleh Jurusan Gizi Poltekkes Depkes Denpasar adalah promosi kesehatan dalam mewujudkan warung sehat di sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi sekolah dasar (SD) di kecamatan Denpasar Timur yaitu SD N 3 Kesiman (Sekolah Dasar Negeri) dan SD 5 Saraswati (Sekolah Dasar Swasta).

Sasaran program ini antara lain :

  1. Pengelola sekolah (Kepala sekolah dan Guru),
  2. Komite sekolah
  3. Pengelola kantin
  4. Siswa

Pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan sesuai dengan strategi promosi kesehatan antara lain :

  1. Advokasi (Advocacy), meliputi kegiatan musyawarah masyarakat sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mensosialisasikan kegiatan promosi kesehatan, untuk memperoleh dukungan komitmen serta memperoleh masukan terhadap pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan yang akan dilaksanakan. Dalam kegiatan ini dihadiri oleh Dinas Pendidikan Kota Denpasar, Kepala SD se-kecamatan Denpasar Timur, Guru UKS, Komite Sekolah dan Pengelola kantin di SD N 3 Kesiman dan SD 5 Saraswati.
  2. Bina Suasana (Social support)

Kegiatan bina suasana meliputi pendidikan gizi pada anak sekolah, pembinaan kantin sekolah, pemasangan spanduk dan poster serta pembuatan media spot radio dan kerjasama dengan media TV melalui pemberitaan kegiatan.

  1. Gerakan masyarakat (Empowerment)

Gerakan masyarakat dalam bidang promosi kesehatan yang dilaksanakan oleh anak SD adalah pembiasaan mencuci tangan sebelum makan dan pemilihan makanan jajajan yang sehat dan bergizi yang tersedia di kantin sekolah.


Hasil positif yang diperoleh dari pelaksanaan program ini antara lain :

  1. Adanya kesepakatan dari pihak sekolah, komite dan pengelola kantin dalam menyediakan makanan yang sehat dan aman di kantin sekolah
  2. Adanya peningkatan pengetahuan anak SD tentang makanan yang sehat dan aman sebesar 45,8%
  3. Adanya perubahan perilaku anak untuk sarapan pagi sebesar 3,6%
  4. Adanya perubahan perilaku positif dari pengelola kantin dalam menyediakan makanan yang sehat dan aman
  5. Terjadi perubahan kebiasaan untuk tidak mengkonsumsi makanan jajanan yang menggunakan pemanis, penyedap, pengawet dan pewarna buatan yang bukan untuk makanan

 

F. Beberapa Hal yang perlu dilakukan

Kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan untuk mendukung terlaksanakan PHBS di tatanan sekolah melalui Program promosi kesehatan yang komprehensif antara lain :

  1. Peningkatan program pelayanan kesehatan yang sudah melalui kegiatan lintas sektor.  

Kegiatan pelayanan kesehatan yang sudah ada saat ini adalah usaha kesehatan sekolah. Pembinaan dari sektor terkait maupun pelayanan kesehatan secara langsung di sekolah oleh Pusat kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebaiknya terus ditingkatkan.

  1. Pendidikan kesehatan bagi siswa

Pendidikan kesehatan hendaknya menjadi bagian yang terintegrasi dengan program pendidikan di sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan penekanan-penekanan ke arah praktis pelaksanaan PHBS pada saat penyampaian materi-materi yang tertuang dalam kurikulum sekolah.

  1. Terciptanya lingkungan sekolah yang sehat

Secara fisik lingkungan sekolah yang sehat dapat diciptakan melalui perencanaan fisik oleh pihak sekolah sehingga indikator-indikator dalam PHBS dapat terpenuhi. Seperti ventilasi, tersediaya jamban, adanya taman sekolah dan lain-lain.

  1. Terciptanya promosi kesehatan sekolah dan masyarakat yang terintegrasi

Sikap dan perilaku siswa di sekolah sudah tentu akan terkait pula dengan perilaku mereka di luar sekolah. Jadi promosi kesehatan yang dilakukan disekolah hendaknya juga terintegrasi dengan promosi kesehatan yang ada di luar sekolah atau di masyarakat

  1. Pendidikan jasmani (kegiatan fisik) di sekolah

Pendidikan jasmani yang terkait dengan kegiatan fisik sudah seharusnya menjadi penekanan bagi siswa. Informasi yang perlu ditekankan adalah pentingnya melakukan aktifitas fisik secara teratur untuk menjaga kebugaran siswa dan mencegah terjadinya kejadian gizi lebih (obesitas) pada siswa.

  1. Pelayanan makanan di sekolah

Sekolah hendaknya dapat menjadi lingkungan yang baik dimana siswa dapat belajar tentang praktek makan yang sehat. Hal ini dapat terwujud jika di sekolah tersedia warung sehat sesuai dengan salah satu indikator PHBS. Makanan yang dijual di sekolah hendaknya makanan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu siswa hendaknya juga dididik agar kritis dalam memilih makanan yang dibelinya.

  1. Konseling kesehatan di sekolah

Kebutuhan informasi kesehatan hendaknya terpenuhi dengan tersedianya konseling kesehatan di sekolah. Konseling kesehatan ini dapat diberikan kepada siswa, guru, staf sekolah serta orang tua siswa yang membutuhkan.

  1. Promosi kesehatan bagi para guru dan staf sekolah

Hal penting lain yang perlu dilakukan pihak sekolah adalah turut aktif meningkatkan kesadaran para guru dan staf sekolah agar lebih peduli dengan pentingnya pelaksanaan PHBS di tatanan sekolah. Karena bagaimanapun guru adalah pihak yang paling dipercaya oleh siswanya sehingga menjadi teladan bagi para siswanya.

Guna mewujudkan kedelapan hal diatas tidak terlepas dari kerjasama yang baik yang mesti diwujudkan oleh pihak-pihak yang semestinya terlibat dalam kegiatan promosi kesehatan di sekolah yakni para siswa, pengelola sekolah (kepala sekolah, para guru dan staf), orangtua siswa, Pusat Kesehatan masyarakat, serta komponen masyarakat yang langsung bersentuhan dengan program di sekolah.

 

G. Kesimpulan

Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui terlaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tatanan sekolah, maka perlu dilaksanakan program promosi kesehatan secara komprehensif dengan menerapkan strategi promosi kesehatan di sekolah.

Program komprehensif yang dimaksud adalah dengan melaksanakan komponen-komponen pokok serta melibatkan seluruh anggota dalam tatanan sekolah meliputi siswa sekolah, pengelola sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf), orang tua dan mayarakat lain yang mungkin terlibat dalam upaya promosi kesehatan di sekolah. Disamping itu juga diperlukan dukungan sosial dan dukungan kebijakan baik dari dinas pendidikan, dinas kesehatan serta di lingkungan sekolah sehingga lebih memantapkan program promosi kesehatan tersebut guna mewujudkan PHBS di sekolah. 

 


Daftar Pustaka

 

Anonim, 2005, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009, Jakarta: Sinar Grafika

Ewles, L dan Simnet, I., 1994, Promoting Health, A Practical Guide 2nd ed. (Terjemahan oleh Ova Emilia), Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Jurusan Gizi Poltekkes Depkes Denpasar, 2008, Laporan Praktek Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pangan dan Gizi, Denpasar : Jurusan Gizi Poltekkes Depkes Denpasar.

Notoatmodjo, S., 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta: PT Rineka Cipta

Pratomo, H., 2001, Ilmu dan Seni Promosi Kesehatan, Makalah disampaikan dalam Konferensi nasional Promosi Kesehatan, Jakarta 11-14 Juni 2001.

Tolsma, Dennis D. And Koplan, Jeffrey P. Health Behaviors and Health Promotion, Behavioral Factors Affecting Health, disampaikan dalam Konferensi nasional Promosi Kesehatan, Jakarta 11-14 Juni 2001.

Widarsa, T., 2004, Laporan Penelitian Derajat Kesehatan Bali tahun 2004, Denpasar: Kerjasama Dinas kesehatan Propinsi Bali dengan PS-IKM UNUD

World Health Organization, 1996, Promoting Health through Schools-the World Health Organization’s Global School Health Initiative, WHO, Geneva.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s