SEPENGGAL KISAH TENTANG SAMPAH

Posted: Februari 5, 2016 in Pola Hidup Sehat

Masalah sampah saat ini mungkin menjadi persoalan  di semua tempat. Dampaknya sangat dirasakan ketika musim hujan ini. Apalagi sampah plastik… yang tidak akan hancur dalam waktu puluhan tahun. Banjir akibat sumbatan sampah pada tempat-tempat aliran air menjadi pemandangan yang sangat lazim. Tapi apa kita akan mengeluh saja ketika banjir datang tanpa berusaha menyadarkan diri sendiri sejak awal. Sampah yang awalnya menjadi masalah rumah tangga berlanjut menjadi masalah-masalah komunitas dan lingkungan diatasnya.

Salah satu potret menumpuknya sampah adalah yang terjadi di semua sisi danau batur dan seputaran Kaldera Batur. Kaldera yang berbentuk cekungan super lebar ini jika tidak mendapat penanganan sejak dini, bayangan saya tidak mustahil akan menjadi “tempat sampah raksasa..”  Bahkan jika sampah ini mengikuti aliran ir tentunya akan masuk ke Danau Batur yang indah ini…

Salah satu titik sampah yang ramai menjadi pembicaraan di media sosial adalah di Desa Trunyan dan persis posisinya di dermaga perahu tempat penyembrangan ke objek wisata kuburan taru menyan… Tentu hal ini ironis sekali… daerah tujuan wisata yang mendunia menjadi tenggelam keharuman namanya oleh sampah plastik yang bertebaran. Banyak postingan dan beragam komentar yang miring muncul karena sampah ini. Meskipun demikian… mungkin ini adalah bentuk kepedulian terhadap kondisi yang mereka saksikan. Kenapa saya katakan kepedulan, karena postingan itu ditindaklanjuti oleh beberapa komunitas yaitu Forum Peduli Bangli (FPB), Caldera Trail Adventure (CTA), Badan Lingkungan Hidup Kab. Bangli, Pimpinan DPRD Bangli dan masyarakat untuk melakukan kegiatan menyapu bersih tumpukan sampah plastik tersebut… Kegiatan aksi ini tentunya merupakan hal yang positif tetapi sifatnya pastilah sangat insidental dan tentunya harus diikuti dengan kesadaran masyarakat lokal untuk menjaganya tetap bersih.

Tetapi ada satu kendala yang muncul, meskipun masyarakat sudah mengumpulkan sampah tersebut… sepanjang belum ada tata kelola sampah tentunya ini menjadi hal yang absurd untuk sebuah slogan Bali Clean and Green, Bangli bersih, maupun Danau Lestari… karena semuanya tetap menumpuk.

Ada sebuah pemikiran terkait tata kelola sampah ini (yang tentunya mungkin bukan pemikiran terbaik.. hehee) namun mesti melibatkan semua pihak dan lapisan masyarakat dan juga pemerintah.

  1. Semua komponen masyarakat hendaknya dihimbau untuk memisahkan sampah rumah tangga yang berbahan plastik dan sampah organik. Karena sampah plastik inilah yang perlu dikeluarkan dari kawasan atau di kelola lebih lanjut. Sampah organik tentunya disediakan tempat saja dan akan hancur dan menjadi sumber pupuk yang baik.
  2. Anak-anak harus sudah mulai diajarkan sejak dini tentang pengelolaan sampah ini.. jadi peran sekolah untuk mengajarkan ini sebagai salah satu keterampilan hidup untuk anak-anak. Namun perlu dicatat bukan salah kaprah seperti anak-anak disuruh membawa sampah plastik ke sekolah (emang sekolah collector sampah? Heheee)
  3. Sebagai konsekuensi dari daerah tujuan wisata dengan target pariwisata massa tentunya sampah bukan hanya berasal dari rumah tangga saja, wisatawan pun datang juga membawa sampah (box makanan, kemasan makanan, botol minuman, dan lain-lain) tentunya ini membutuhkan sarana tempat sampah sehingga tidak dibuang sembarangan oleh wisatawan.
  4. Peran pemerintah adalah memfasilitasi pengangkutan sampah plastik ini keluar dari kawasan. Maksud keluar disini adalah bisa ke tempat pembuangan akhir (TPA). Jika pemerintah kabupaten terlalu lambat kenapa tidak dari desa berinisiatif untuk mengadakan kendaraan pengangkut sampah. Pengelolaan ini tentunya akan membutuhkan tenaga kerja dan biaya operasional. Tapi sebuah usaha tentunya pasti membutuhkan modal. Sehingga perlu pembicaraan lebih detail di tingkat desa dengan melibatkan semua komponen.
  5. Alternatif lainnya adalah dengan membawa ke tempat pengelolaan sampah (Bank sampah) jika sampah plastik ini bernilai ekonomis. Pemikiran ini berdasar pada bahwa sekarang ini banyak sampah plastik banyak diperjualbelikan untuk didaur ulang. Jadi kenapa tidak merubah MIS (sampah) menjadi PIS (uang)?

Uraian ini adalah untaian pengamatan dan pengalaman. Mungkin terlalu sederhana bagi orang yang ahli  dalam bidang sampah dan pengelolaan lingkungan. Tapi kenapa tidak? Ayo kita mulai dari diri sendiri, keluarga sendiri dan lingkungan sendiri…. (TS05022016)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s