TIRTA PACEBURAN DI GUNUNG ABANG

Posted: Februari 8, 2016 in Pola Hidup Sehat

Tirta Paceburan adalah sebuah air terjun yang berada di lereng Gunung Abang yang keberadaannya sangat disakralkan oleh masyarakat. Tirta Paceburan ini mempunyai beberapa nama lain atau sebutan seperti Tirta Sapujagat, Tirta Bentar Kedaton, dan Tirta Betel. Menurut masyarakat setempat lokasi ini memiliki keunikan dimana Air Terjun (Tirta Paceburan)  tidak pernah tidak mengalir meskipun di musim kemarau. Air itu mengalir dari ketinggian kira-kira di pertengahan Gunung Abang atau Gunung Tuluk Biu.

Tilem Kaulu, tanggal 7 Februari 2016 kami berniat untuk mendatangi air terjun ini. Pejalanan kali ini kami lakukan berdua, saya dengan Komang Karwijaya sedangkan Jro Gede Partha Wijaya tidak bisa ikut karena tidak enak badan dan demam, Wiwin Kayoan sedang ada acara Ngayah di Banjar, Komang Sutapa sedang melakukan Tugas Domestik, dan Made Sarjana sedang membangun sebuah Pondok di Carik Duang Tebihnya (piss pak made).

Tiba di Banjar Dukuh, Desa Abang Batu Dinding kami menuju titik rumah bapak Gede Darmika. Namun beliau sedang pergi memancing. Istri beliau ibu Wayan Penpen menyatakan jika ingin ke Tirta Paceburan beliau siap mengantar. Awalnya kami agak ragu namun dijelaskan bahwa beliau sudah beberapa kali tangkil kesana. Jadi keraguan kami sedikit berkurang.

Kami berangkat dari balai banjar Dukuh, Desa Abang Batu Dinding sebagai titik awal. Melintasi areal perkebunan warga dengan hamparan warna hijau yang menye

jukkan mata. Beberapa tanaman pertanian yang menjadi komoditas disini seperti bawang, kol dan juga kentang. Setelah melewati areal perkebunan kami pun mulai menyusuri hutan dengan menanjak. Namun perjalanan ini tidak terlalu melelahkan karena rimbunnya dedaunan menyebabkan panas matahari tidak terlalu terasa.  Akhirnya setelah empat puluh lima menit berjalan kami pun tiba di pelinggih pura yang oleh masyarakat setempat disebut Pura Betel. Pura ini mempunyai posisi yang sejajar jika ditarik garis lurus dengan titik tengah Gunung Batur di Barat.

Selanjutnya kami bersembahyang di pura tersebut. Awalnya saya berpikir perjalanan masih cukup jauh, ternyata perkiraan saya salah. Setelah beberapa meter berjalan kamipun tiba di Air Terjun Tirta Paceburan. Sungguh saya sangat takjub dengan keindahan tempat ini dan juga ketenangan yang menyejukkan hati. Kami pun melakukan persembahyangan kembali. Menurut bu wayan, dari cerita yang pernah dia dengar dari para tetua bahwa Tirta Paceburan ini adalah tingkat yang ketiga dari sumber air. Namun beliau menyatakan belum pernah ke sumber Tirta nya.

Setelah mengambil beberapa foto akhirnya kami memutuskan untuk balik ke Desa karena mendung yang cukup tebal. Namun kami tidak balik menempuh jalan yang di awal, melainkan berjalan menyusuri badan sungai yang berbatu. Sungguh batu-batu besar dan kecil yang memenuhi badan sungai seperti manik-manik yang sangat indah. Batu dan pasir sepanjang badan sungai tersebut adalah longsoran dari gunung. Dan seperti yang diceritakan oleh masyarakat setempat setelah beberapa meter air dari Tirta Paceburan pun sirna. Sehingga pemandangan berikutnya hanya batu dan pasir kering yang di badan sungai.

Setelah di foto Tirta Paceburan di Posting oleh rekan Komang Karwijaya beragam tanggapan dan masukan tersampaikan. Salah satunya pesan yang disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat Bapak Adi Fatur (Nyoman Basma) adalah bahwa menjaga nilai kesakralan dari pada Fungsi Tirta ini adalah satu hal yang wajib dilakukan. Karena air terjun ini bukanlah air terjun biasa seperti halnya air terjun di daerah lain. Menurut beliau didaerah tersebut (Kintamani Timur) tak ada satu mata air pun yang memiliki debit yang memadai . Tapi Tirta ini sungguh berbeda Fakta, muncul dari ketinggian yang tandus dan irama aliran airnya mengiringi musim. Demikian juga keberadaan Tirta ini sangat terkait dengan prasasti Pura Tuluk Biu serta deretan petiratan Ida Betara Tuluk Biu.

Jadi bagi yang ingin datang/tangkil kesini, Jaga Kebersihan, Kesopanan dan Selalu Respect terhadap apapun yang disampaikan oleh Tokoh dan Masyarakat Lokal. Mari bersama kita jaga kelestariannya  (TS08022016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s