MUJAIR DALAM KERAMBA (#1)

Posted: Februari 14, 2016 in Pola Hidup Sehat

Salah satu ikon kuliner yang khas di miliki Bangli adalah Masakan Ikan Mujair nya. Beragam menu kan mujair yang ditawarkan seperti ikan mujair bakar, goreng, panggang dan yang paling khas adalah Jair menyatnyat dengan bumbu Balinya. Beberapa warung makan maupun yang sudah cukup memiliki nama di seputaran wilayah Kintamani hingga ke

Salah satu ikon kuliner yang khas di miliki Bangli adalah Masakan Ikan Mujair nya. Beragam menu kan mujair yang ditawarkan seperti ikan mujair bakar, goreng, panggang dan yang paling khas adalah Jair menyatnyat dengan bumbu Balinya. Beberapa warung makan maupun yang sudah cukup memiliki nama di seputaran wilayah Kintamani hingga ke Kota Bangli cukup berani dengan hanya menawarkan mujair sebagai pilihan menunya. Seperti warung makan di Seked, di Culali, di Batur, di Kedisan dengan Resto Apungnya.

Kenapa masakan mujair mampu menjadi ikonik wisata kuliner di Kintamani dan Bangli secara umum, hal ini tidak terlepas dari rasa ikan Mujair Danau Batur yang memang berbeda dengan Mujair atau Nila yang dikembangkan di daerah lainnya. Ikan Mujair Danau dibudidayakan dalam keramba-keramba yang dikelola oleh masyarakat di sekitar danau batur seperti Songan, Kedisan, dan Trunyan.

Perjalanan hari ini kami lakukan ber tiga yaitu dengan Jro Gede Partha Wijaya dan Komang Karwijaya. Rencananya hari ini perjalanan akan kami lakukan ke Giri Campuhan, Kecamatan Tembuku, Kab. Bangli. Namun karena Jro Gede Partha ada keperluan ke Songan jadi perjalanan dialihkan ke Songan dulu. Sahabat yang satu ini memang sedang mengembangkan usaha budidaya mujair dengan keramba di Danau Batur.

Cerita sepanjang perjalananpun berkisar tentang prospek ikan mujair sebagai salah satu komoditas pangan perikanan yang cukup tinggi konsumsinya. Data yang dirilis oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bangli menyebutkan bahwa budidaya ikan mujair di Danau sekitar 30 juta ekor setahun. Namun sayangnya Balai Benih Ikan (BBI) di Bangli (Sidembunut dan yang lainnya) hanya mampu mensuplay benih sekitar 12 juta ekor setahun, sehingga kekurangan benih ini di datangkan dari daerah lain seperti Bolangan, Kab. Tabanan dan Sangeh, Kab. Badung bahkan dari Jawa.

Lokasi keramba yang kami tuju berada di danau batur, disebelah timur Desa Songan. Karena keramba diletakkan di tengah perairan danau maka setelah tiba di Desa Songan, untuk mencapai kesana haru naik pedau atau kano. Cukup sulit untuk naik pedau ini karena syarat utamanya harus tenang. Semakin tidak tenang semakin oleng pedaunya. Kurang dari 10 menit untuk mencapai lokasi keramba. Dan ketika berada di keramba hamparan danau batur yang luas dengan view kanan kiri depan belakang yang luar biasa indahnya membuat betah tetap berada disana.

Ikan mujair yang di budidayakan di Keramba adalah ikan yang berukuran 7-9 yang merupakan hasil pendederan pada pembudidaya ikan. Awalnya para pendeder ini mengambil ukuran larva di BBI kemudian mereka pelihara hingga ukuran 7-9 tersebut. Keramba tempat pembudidayaan ikan mujair di danau batur yang saya kunjungi berukuran 4X4 meter untuk setiap petak/lubangnya. Bahan keramba menggunakan bambo petung dan untuk membuat mengambang digunakan bahan sterofoam. Keramba yang lainnya ada yang menggunakan drum atau gallon plastik. Untuk menjaga ikan-ikan agar tdak keluar dari keramba digunakan jarring. Jaring-jaring yang digunakan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan ikan. Selain itu perlu juga dipasang jarring diatasnya untuk melindungi ikan dari pemangsa dari udara yaitu burung-burung.

Bibit yang ditebar dalam satu petak keramba sebanyak 3.200 ekor. Pemberian pakan menyesuaikan dengan ukuran ikan dan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Masa panen ikan mujair yang dibudidayakan ini bekisar antara 4-5 bulan hingga mencapai ukuran konsumsi atau 3-4 ekor per kilogramnya. Jika dengan asumsi tingkat kematian yang paling tinggi, katakanlah 50% hasil yang didapatkan dari keramba ini sekitar 3 kwintal ikan mujair per petak keramba. Suatu usaha dengan prospek yang baik…  Namun bukan berarti usaha ini tanpa tantangan dan kendala. Justru karena pengelolaanya di alam tentunya factor utamanya adalah alam. Sebab suhu air, cuaca, bahkan kadang letupan belerang adalah faktor–faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh para pembudidaya ikan mujair dalam keramba.

Nah itu dulu cerita tentang mujair dalam keramba di danau batur. Cerita tentang manfaat makan ikan dan kaitannya dengan kesehatan nanti deh di tulisan #2 tentang ikan-ikan mujair dalam keramba.Bangli cukup berani dengan hanya menawarkan mujair sebagai pilihan menunya. Seperti warung makan di Seked, di Culali, di Batur, di Kedisan dengan Resto Apungnya.

Kenapa masakan mujair mampu menjadi ikonik dalam wisata kuliner di Kintamani dan Bangli secara umum, hal ini tidak terlepas dari rasa ikan Mujair Danau Batur yang memang berbeda dengan Mujair atau Nila yang dikembangkan di daerah lainnya. Ikan Mujair Danau dibudidayakan dalam keramba-keramba yang dikelola oleh masyarakat di sekitar danau batur seperti Songan, Kedisan, dan Trunyan.

Perjalanan hari ini kami lakukan ber tiga yaitu dengan Jro Gede Partha Wijaya dan Komang Karwijaya. Rencananya hari ini perjalanan akan kami lakukan ke Giri Campuhan, Kecamatan Tembuku, Kab. Bangli. Namun karena Jro Gede Partha ada keperluan ke Songan jadi perjalanan dialihkan ke Songan dulu. Sahabat yang satu ini memang sedang mengembangkan usaha budidaya mujair dengan keramba di Danau Batur.

Cerita sepanjang perjalananpun berkisar tentang prospek ikan mujair sebagai salah satu komoditas pangan perikanan yang cukup tinggi konsumsinya. Data yang dirilis oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bangli menyebutkan bahwa budidaya ikan mujair di Danau sekitar 30 juta ekor setahun. Namun sayangnya Balai Benih Ikan (BBI) di Bangli (Sidembunut dan yang lainnya) hanya mampu mensuplay benih sekitar 12 juta ekor setahun, sehingga kekurangan benih ini di datangkan dari daerah lain seperti Bolangan, Kab. Tabanan dan Sangeh, Kab. Badung bahkan dari Jawa.

Lokasi keramba yang kami tuju berada di danau batur, disebelah timur Desa Songan. Karena keramba diletakkan di tengah perairan danau maka setelah tiba di Desa Songan, untuk mencapai kesana haru naik pedau atau kano. Cukup sulit untuk naik pedau ini karena syarat utamanya harus tenang. Semakin tidak tenang semakin oleng pedaunya. Kurang dari 10 menit untuk mencapai lokasi keramba. Dan ketika berada di keramba hamparan danau batur yang luas dengan view kanan kiri depan belakang yang luar biasa indahnya membuat betah tetap berada disana.

Ikan mujair yang di budidayakan di Keramba adalah ikan yang berukuran 7-9 yang merupakan hasil pendederan pada pembudidaya ikan. Awalnya para pendeder ini mengambil ukuran larva di BBI kemudian mereka pelihara hingga ukuran 7-9 tersebut. Keramba tempat pembudidayaan ikan mujair di danau batur yang saya kunjungi berukuran 4X4 meter untuk setiap petak/lubangnya. Bahan keramba menggunakan bambo petung dan untuk membuat mengambang digunakan bahan sterofoam. Keramba yang lainnya ada yang menggunakan drum atau gallon plastik. Untuk menjaga ikan-ikan agar tdak keluar dari keramba digunakan jarring. Jaring-jaring yang digunakan menyesuaikan dengan tahapan perkembangan ikan. Selain itu perlu juga dipasang jarring diatasnya untuk melindungi ikan dari pemangsa dari udara yaitu burung-burung.

Bibit yang ditebar dalam satu petak keramba sebanyak 3.200 ekor. Pemberian pakan menyesuaikan dengan ukuran ikan dan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Masa panen ikan mujair yang dibudidayakan ini bekisar antara 4-5 bulan hingga mencapai ukuran konsumsi atau 3-4 ekor per kilogramnya. Jika dengan asumsi tingkat kematian yang paling tinggi, katakanlah 50% hasil yang didapatkan dari keramba ini sekitar 3 kwintal ikan mujair per petak keramba. Suatu usaha dengan prospek yang baik…  Namun bukan berarti usaha ini tanpa tantangan dan kendala. Justru karena pengelolaanya di alam tentunya factor utamanya adalah alam. Sebab suhu air, cuaca, bahkan kadang letupan belerang adalah faktor–faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh para pembudidaya ikan mujair dalam keramba.

Nah itu dulu cerita tentang mujair dalam keramba di danau batur. Cerita tentang manfaat makan ikan dan kaitannya dengan kesehatan nanti deh di tulisan #2 tentang ikan-ikan mujair dalam keramba. (TS14022016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s