NGUSABA DALEM DI DESA TUA

Posted: September 24, 2016 in Pola Hidup Sehat

Ini adalah sebuah tulisan saya pertama tentang budaya khususnya di Bali. Perjalanan ini kali adalah di sebuah Desa Tua di Bali. Kegiatan upacara ini dikenal dengan Ngusaba Dalem. Sebagaimana namanya upacara dilaksanakan di areal pura dalem yang sangat tua dan dikenal sebagai Pura Dalem Pingit. Upacara diawali dengan pembersihan areal tempat upacara kemudian dilanjutkan dengan menyembelih 2 ekor sapi sebagai “olahan” yang digunakan dalam upacara.
Sebagai catatan pengolahan daging sapi ini semua direbus atau dipanggang tidak ada pengolahan dengan menggoreng. Termasuk semua isi banten yang nantinya digunakan dalam upacara inipun tidak ada yang digoreng jadi disajikan dalam bentuk segar, diolah dengan direbus atau dipanggang.
Setelah beberapa olahan upakara jadi dan matang maka Pemimpin adat di Desa ini (Jero Bayan) menghaturkan ulam olahan dan juga disertai dengan metabuh sedangkan anggota masyarakat masih tetap melanjutkan kegiatan metanding upakara dan juga tandingan kawas.
Setelah semuanya selesai, seperti banten peduluan (klatkat) tandingan dan sebagainya yaitu sekitar menjelang tengah hari, acara dilanjutkan dengan makan bersama.
Selanjutnya datang karma (warga) perempuan dengan membawa banten (sesajen) yang akan dihaturkan dalam ngusaba ini. Seperti halnya makanan olahan yang disyaratkan bahan dalam banten inipun hanya menggunakan bahan yang dimasak direbus atau dipanggang saja. Dengan berdatangannya para warga perempuan Suasana menjadi cukup ramai. Karena acara ngusaba ini diikuti oleh 3 banjar di wilayah desa ini. Bahkan warga yang tinggal diluar desa bahkan di luar pulau menyempatkan untuk hadir dalam upacara ini.
Adalah menjadi kewajiban bagi Krama desa lanang (warga laki-laki) untuk membawa penjor dan sambeng. Penjor adalah batang bambu yang buku-buku dalamnya ditembuskan. Bambu yang digunakan untuk penjor ini bambu khusus yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai tiing tali dami. Penggunaan bambu ini bertujuan agar mudah dilubangi buku didalamnya dan bambunya juga tidak terlalu tebal. Panjang Bambu sekitar 3 meteran. Kemudian penjor ini diisi dengan tuak manis sekitar 3 liter dalam satu penjor yang akan digunakan untuk acara metabuh dalam ngusaba ini. Diujung penjor diisi dengan daun endong yang dilipat. Sedangkan sambeng adalah bambu berukuran kurang kebih 30 cm yang ditomes (potong miring) bagian atasnya sebagai sarana metabuh.
Acara ngusaba dipimpin oleh jero bayan. Pertama dengan menghaturkan banten, baik banten peduluan, banten yang dibawa krama istri (warga perempuan). Selanjutnya adalah persembahyangan secara tradisi di desa tersebut. Acara berikutnya adalah mesoda. Kemudian dilanjutkan dengan metabuh oleh krama lanang. Penjor yang berisi sisa air tuak manis yang sudah selesai dipakai metabuh biasanya diberikan kepada anak-anak yang hadir disana. Suasana yang begitu cair dan meriah ketika anak-anak tersebut berbagi tuak manis.
Acara berikutnya adalah persembahyangan lagi dengan menghaturkan banten klatkat di dua tempat yaitu di Dalem Pingit dan satunya di areal tempat metabuh. Acara ngusaba diakhiri dengan mejuryag (berebut) banten jumutan yang dihaturkan di banten klatkat. Meskipun awalnya berebut dengan seru namun setelah selesai mereka saling berbagi.
Oke itu satu cerita dari sebuah desa tua tentang Ngusaba Dalem. Semoga dilain kesempatan bisaabl4 abl2 abl1abl5 menuliskan cerita-cerita yang lainnya. Terimakasih kepada Guru Gede Wiratmaja Karang yang membangunkan saya dari “jeda” menulis melalui motivasinya yang Top…, Jro Gede Partha Wijaya sahabat terbaik dan juga Aya’ putranya serta Master Sang Guru “Oman Dollo” yang sudah bersama glalang gliling di TKP.
#SalamBudaya #saatnyamenulis …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s